Catatan Perjalananku saat Diklat LPM-SM
Petang itu kami memulai kegiatan diklat Lembaga Pers Mahasiswa, Spirit Mahasiswa. Diklat dimulai dengan pemberian arahan untuk menyebrangi lautan menuju Surabaya melalui pelabuhan Kamal ke pelabuhan Tanjung Perak. Dengan rasa kantuk, badan terasa begitu pegal dan perut yang terisi tak begitu penuh, kami menaiki kapal dengan semangat dan penuh harapan kegiatan diklat yang akan kami hadapi. Aku mengamati seluruh isi kapal yang kami tumpangi ini. Tak terkecuali anggota diklat atau saudara-saudara baru ku sendiri ini. Aku melihat Ario, Wahyu, Adji, dan Ajie bersandar pada bagian pagar kapal dengan posisi duduk bersila. Mereka tampak sangat kelelahan dan mengantuk. Ario terlelap dengan posisi kepala menyembul keluar pada bagian tengah tiang besi-besi pagar kapal. Kami semua tertawa melihatnya. Hingga Amel mengabadikan momen mereka yang sedang terlelap kelelahan ini dengan ponsel canggih miliknya. Aku sendiri juga merasa sangat lelah, mengantuk, dan lapar. Tapi kita semua tidak boleh menyerah begitu saja. Kita baru memulai. Kita baru berangkat. Kita tidak akan tau akan kemana saja kita nanti. Kegiatan apa saja yang akan kita lalui nanti. Tantangan apa saja yang harus kita lewati nanti. Kita harus selalu siap, semangat dan tidak boleh cepat menyerah. Kita memiliki satu tujuan yang sama. Kita harus berhasil melakukan diklat ini dengan baik dan tentunya selamat sampai akhir.
Sesampainya di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, kami diberi pengarahan untuk lanjut menuju Tunjungan plaza Surabaya. Dengan ekspektasi lebih karena mendengar tempat yang akan kami tuju, kami kembali bersemangat. Tapi aku tahu, kita kesana tidak tanpa tujuan atau hanya bersenang-senang. Pasti ada tugas yang harus kami lakukan. Dan benar saja, kita mendapatkan tugas yang menurut kami akan sulit dilakukan. Kami mendapat tugas mewawancarai 3 pengunjung, 3 pemilik kios, 1 satpam dan 2 cleaning service. Mengapa sulit? Kita belum mandi, pakaian pun seadanya, tak biasa juga mewawancarai sembarang orang apalagi ditempat seperti ini. Tempatnya orang kalangan atas. Benar saja, mereka langsung lari saat kami mendekati. Ada juga yang meladeni tetapi dengan sikap ogah-ogahan. Menurut ku orang di Tunjungan Plaza ini tidak ingin di ganggu dengan aktivitas mereka. Entah itu pengunjung yang sedang berbelanja, maupun satpam, pemilik kios, dan cleaning service yang sedang sibuk bekerja. Tapi untuk para pekerja, mereka terlihat sangat ingin membantu kami tetapi mereka takut terlihat oleh atasan mereka jika mereka sedang tidak melakukan tugasnya dengan baik. Berbeda dengan para pengunjung yang tak ingin diganggu sama sekali oleh kami. Mereka langsung kabur, tak menghiraukan kami yang bahkan baru mengatakan kata 'permisi'.
Setelah dari Tunjungan Plaza, kami berlanjut menuju Taman Bungkul. Aku kira, kami akan beristirahat disana dan membahas tentang apa yang kami lalui di Tunjungan Plaza. Tapi ternyata tidak hanya itu, kami diberi tugas lagi untuk mewawancarai 2 pengunjung, 3 komunitas, dan 2 pedagang. Kami laksanakan dengan sebaik mungkin. Di Taman Bungkul ini, semuanya sungguh berbeda dari Tunjungan Plaza. Mereka lebih mudah untuk diajak berbicara atau berkomunikasi. Mereka lebih ramah dan lebih terbuka pada kami. Bagian sulitnya mencari komunitas untuk diwawancarai. Malam itu sudah lumayan larut dan menurutku lebih banyak komunitas di pagi hari daripada di malam hari. Jadi minim komunitas yang berkunjung kesana pada malam hari. Ah ya, di setiap tempat kami berkelompok dua orang, ada juga yang satu orang. Di Taman Bungkul ini aku berkelompok dengan Cahya. Aku takjub padanya, dia sangat jago mewawancarai orang dengan semua kata yang muncul dari bibirnya. Sangat luwes dan sangat gampang saat dia ingin menyampaikan sesuatu. Berbeda denganku yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik kepada orang lain. Aku tak pernah berani untuk berbicara didepan umum. Akhirnya Cahya menyadari sikapku ini. Kuduga dia sudah sangat mengantuk malam itu, dia lelah hanya dia yang mewawancarai sedangkan aku hanya memegang ponsel untuk merekam percakapan saat wawancara. Dengan kesal dia berkata, "Ayo ran, giliran kamu yang wawancara ya" aku terkejut dan langsung spontan menolak, "Nggak, aku nggak bisa. Nggak berani." Aku memang begitu, sangat takut dan tak memiliki keberanian. Cahya pun berujar, "Terus ngapain kamu ikut LPM, pulang sana" setelah itu dia berjalan cepat meninggalkan ku. Aku terdiam seraya mengikutinya dari belakang. Merutuki diriku sendiri. Bertanya pada diri sendiri juga, kapan aku berubah? Dasar aku. Nggak akan pernah mau berusaha berubah untuk memperbaiki diri sendiri.
Setelah dari Taman Bungkul, saat itu sudah sangat larut pukul 00:00. Kami berharap setelah ini kami diberi waktu untuk istirahat tidur. Tetapi lagi-lagi tidak. Kami diajak berjalan dari Taman Bungkul menuju Stasiun Wonokromo. Kami memiliki tugas lain. Menganalisis tempat pelacuran di belakang Stasiun Wonokromo. Aku sudah sangat takut mendengar ceritanya yang katanya tempatnya para pemabuk, preman, dan tentunya para pelacur. Aku sedikit lega saat berkelompok dengan Ario. Dia lebih tua dariku, jadi aku tidak terlalu takut. Tapi tetap saja saat berjalan menuju ke tempat tersebut berdua bersama Ario, aku tak bisa berhenti meremat ujung kemeja ku. Hatiku tak tenang. Jantungku berdegup kencang. Bukan karena jalan berdua dengan Ario. Bukan. Karena tempat yang akan aku kunjungi ini. Ario melihat gerak-gerik ku yang tak tenang ini. Dia mencoba menenangkan ku. Dia berkata, "Santai aja ran, nggak akan ada apa-apa." Aku hanya menjawab dalam hati. Santai katanya? Aku sudah membayangkan yang macam-macam duluan. Kita memasuki area pelacuran tersebut. Di setiap tempat banyak pria dari seumuranku hingga dewasa. Tentunya para pelacur cantik yang sedang duduk di kursi kecil di setiap pinggir jalan menunggu pelanggannya. Aku awalnya tidak berani menatap atau mengamati mereka satu persatu. Aku hanya berjalan di belakang Ario dengan menundukkan kepala. Ario berhenti di salah satu warung kopi disana. Dia memesan kopi, rokok, dan teh hangat untukku. Dia menyuruhku duduk dan meminum tehnya. Sesekali dia berkata padaku untuk santai saja, tidak perlu terlalu takut. Aku mencobanya. Ku sedap teh hangat ku perlahan dan mencoba duduk dengan tenang. Aku mulai mengamati sekitar. Di sebelah warung kopi yang kami kunjungi ini terdapat dua tenda yang bisa aku tebak tempat para pelacur melayani pelanggannya. Di depanku terdapat para pelacur cantik yang umurnya tak jauh dariku. Mereka duduk di kursi kecil, menunggu pelanggannya sambil memainkan ponsel mereka. Aku amati mereka. Umurnya benar-benar tak jauh dariku. Aktivitas mereka juga tak berbeda dariku. Mereka menonton drama korea, membaca Webtoon, memainkan sosial media instagram milik mereka. Mereka masih gadis normal sama sepertiku. Aku mulai berpikir dan melemparkan banyak pertanyaan dikepalaku. Apa alasan mereka bekerja seperti ini? Apa mereka tak ingin keluar dari pekerjaan ini? Apa mereka pernah memiliki pemikiran kabur dari kehidupan mereka yang seperti ini? Aku sangat ingin bertanya, tetapi aku tidak berani. Bertanya pada ibu pemilik warkop yang kelihatannya sangat baik pun aku tak berani.
Aku takut menyinggung perasaan mereka jika aku bertanya. Aku ingin pemerintah menghilangkan tempat seperti ini dan memberikan pekerjaan yang layak bagi para pelacur. Aku tak ingin gadis seusiaku menghabiskan masa remaja mereka dengan bekerja seperti ini. Aku ingin mereka menikmati masa remajanya, sama sepertiku. Aku ingin mereka bisa lanjut bersekolah juga, sama sepertiku.
Minggu pagi, kami lanjut ke tujuan selanjutnya pasar waru, Sidoarjo. Disana kami diberi tugas mewawancarai 3 pedagang dan 3 pengunjung. Aku berkelompok dengan Ajie. Dia seperti Cahya, jago sekali berbicara. Aku salut padanya. Aku tau akhirnya dia akan berkata, "Ayo ran gantian" dan hasilnya pun sama aku menolak lagi. Ajie berujar, "Loh kok nggak berani, ayo belajar. Kamu coba dulu, nanti kalau nggak bisa aku bantu. Ayo harus bisa" dia menyemangati ku. Aku juga malu jika setiap kali seperti ini, aku harus berubah. Aku harus berani. Benar kata Ajie, harus bisa. Aku mencobanya, aku memulai wawancara kepada pengunjung pasar. Akhirnya aku bisa. Aku bisa mewawancarai orang dengan bahasaku, dengan perkataanku sendiri. Aku bangga dengan diriku sendiri. Aku sangat berterimakasih pada Ajie. Aku akan selalu berusaha memperbaiki diriku sendiri mulai saat ini.
Setelah dari pasar waru Sidoarjo, kami lanjut ke terminal Bungurasih. Aku sudah bisa menebak kita pasti akan ditugaskan wawancara lagi. Ternyata benar. Kita ditugaskan mewawancarai 2 penumpang, 1 sopir, 1 kernet. Aku berkelompok dengan Juan, si rapi. Pakaiannya yang selalu rapi membuat keunikan sendiri pada dirinya. Karena sebelumnya aku sudah berani mewawancarai, aku mulai membiasakan diri mewawancarai orang. Juan, dia agak kurang berani bertanya. Aku melakukan hal yang sama seperti Ajie saat aku tidak berani bertanya atau mewawancarai orang. Aku menyemangati Juan. Aku berkata, "Ayo Juan, kamu pasti bisa. Harus bisa. Ayo dicoba" akhirnya Juan juga bisa berani melakukan wawancara dengan lancar.
Setelah itu, kami diberi kesempatan untuk sarapan. Kami makan bersama. Satu bungkus nasi untuk dua orang. Disini kami selalu diajarkan untuk berbagi. Kami juga di ingatkan bahwa kami disini bukan sekedar teman, kami saudara. Kami keluarga. Diklat ini mengajarkan kami banyak hal. Materi yang tidak akan kami dapat dimana pun, pengalaman baru, pemikiran yang mungkin kadang tidak terpikirkan oleh kami, pelajaran hidup, pelajaran apapun itu, kekeluargaan, keberanian, kesabaran, dan banyak lagi. Ambisiku untuk masuk UKM ini salah satunya adalah rasa kekeluargaan mereka. Rasa kekeluargaan yang sangat ingin aku dapatkan. Aku selalu merasa tak memiliki siapapun sejak dulu. Aku selalu sedikit jika mempunyai teman. Aku melihat LPM SM ini bukan sekedar UKM. Mereka keluarga. Mereka merangkul semuanya yang ingin menjadi bagian dari mereka, bagian dari keluarga mereka.
Semoga, aku dan semua angkatan ku yang mengikuti diklat dua hari kemarin akan bisa menjadi bagian dari keluarga mereka. Semoga kita semua menjadi keluarga. Aku menunggu saat-saat itu. Aku menantinya.