Senin, 26 Agustus '19
Catatan harian ku.
Aku langsung bergegas untuk menelpon mamaku. Aku mencoba beberapa kali tidak diangkat. Pikiranku sudah kemana-mana. Tapi aku selalu berpikir, "Ah nggak, ibu lagi tiduran di kamarku. Dia pasti sedang beristirahat." Kebetulan memang nenekku tinggal di rumahku semenjak dia sakit, mamaku merawatnya. Dan aku memanggil nenekku dengan sebutan ibu semenjak aku kecil. Hingga panggilan ke-lima, mama baru mengangkat telponku. Tanpa basa-basi, aku langsung bertanya, "Ma, ibu lagi apa?" dengan nada menahan tangis. Tapi aku terkejut saat yang menjawab bukan mamaku. Suara sepupuku menjawab, "Dek, tenang dulu nggak boleh nangis. Aku kasih tau, ibu sudah meninggal. Jangan nangis, oke? Kasihan ibu kalau kamu nangis." Tapi tetap saja tidak bisa. Aku langsung menangis ditempat sejadi-jadinya. Dibawah tangga aku menangis seraya meremat ponsel yang masih di genggamanku. Aku merasakan semua orang yang di sekitarku terkejut, mereka menghentikan aktivitasnya melihatku tetapi tidak berani mendekatiku. Mungkin karena aku menangis terlalu kencang dan tiba-tiba, hehehe. Beruntung saat itu Musahilah -kating pendamping kamar- lewat dan langsung membantu menenangkan dan membawaku kembali ke kamar. Sesampainya di kamar aku kembali menangis dengan kencang, tentunya mengagetkan semua teman sekamarku. Aku kembali mendapat telpon dari mamaku. Aku mengangkatnya masih dengan menangis sesenggukan tak karuan. Mama menelpon untuk menyuruhku agar tidak menangis dan membenarkan bahwa memang nenekku sudah meninggal. Tapi susah. Aku tetap menangis pastinya.
Nenek adalah orang yang merawatku sejak aku lahir hingga umur lima tahun. Sepanjang hidupku, dia juga tetap memberiku kasih sayang lebih daripada cucu-cucunya yang lain. Dia adalah ibu kedua bagiku. Aku sangat menyayanginya, aku tak ingin kehilangan dia. Tidak sebelum dia melihatku sukses. Tidak sebelum dia melihatku menjadi sarjana. Tidak sebelum.dia melihatku menikah, mendapatkan suami yang baik untukku seperti katanya, dan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku sama sepertinya. Tetapi tuhan berkata lain, tuhan mengambilnya terlebih dahulu sebelum itu semua terjadi.
Awalnya aku sangat marah tentunya. Sangat marah pada nenekku. Kenapa dia tak ingin bertemu aku terlebih dahulu? Kenapa dia tak menyuruhku pulang? Apa dia kesal padaku? Apa aku memiliki kesalahan padanya? Aku sangat iri pada sepupu-sepupuku yang masih bisa bertemu dengannya sebelum ia meninggal, ataupun sebelum dia dikuburkan. Sedangkan aku disini masih memiliki banyak tanggungan tugas yang belum rampung dan kegiatan yang harus di ikuti. Aku tak bisa pulang bertemu dengan nenek. Aku sangat kesal, marah, dan sedih.
Hingga aku mengikuti sholat magrib berjamaah di asrama. Aku sadar. Aku berterimakasih pada Allah karena tidak memberikan sakit yang berkelanjutan kepada nenekku. Aku berterimakasih karena Allah mengambil nenekku mungkin untuk menemani kakekku juga diatas sana. Nenek juga tak ingin aku pulang karena tak ingin mengganggu aktivitas kuliahku. Nenek ingin menjadi aku orang sukses dan berhasil. Nenek ingin aku menjadi sarjana. Allah juga pasti memiliki alasan sendiri mengapa Ia mengambil nenekku. Aku tak boleh menjadi egois, aku tak boleh kesal pada siapapun dan apapun. Aku juga tidak boleh sedih yang berlarut juga. Nenek pasti tak ingin aku sedih karenanya. Karena nenek menyayangiku. Aku pun juga sangat menyayanginya. Khusnul khatimah ya Bu, Aku sayang ibu. Aku janji akan cepat-cepat pulang mengunjungimu.
Lapangkan hati, lapangkan batin
ReplyDeleteyang ikhlas ya..
ReplyDeletesemua itu sudah ada garis takdirnya masing masing. fighting^^
semangat yaa!
ReplyDeletejangan berlarut larut dalam kesedihan, hidup itu berputar.
jadi ayo lakukan hal yang bisa membuat bangga nenek dan orang orang yang menyayangimu!